5MINNEWS – Pemilu Israel 2026 menunjukkan persaingan ketat antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot. Setelah hampir 90 persen suara dihitung, blok politik Netanyahu berada di posisi teratas dengan proyeksi 53 kursi di parlemen. Namun, keunggulan tersebut belum cukup untuk memastikan dirinya dapat mempertahankan jabatan sebagai perdana menteri karena koalisinya masih kekurangan dukungan untuk menguasai mayoritas Knesset. Berdasarkan laporan Al Jazeera pada Kamis (29/10/2026), Komite Pemilihan Umum Pusat Israel menyatakan lebih dari lima juta suara telah dihitung hingga Rabu (28/10/2026) pukul 21.00 waktu setempat. Hasil sementara memperlihatkan blok Netanyahu unggul lima kursi dibandingkan kelompok oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot. Kelompok oposisi tersebut diproyeksikan memperoleh 48 kursi dari total 120 kursi parlemen. Sementara itu, dua kelompok partai Arab Israel, yakni Joint List dan Ra’am, diperkirakan menguasai 19 kursi secara keseluruhan. Komposisi sementara tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada blok politik yang mampu mengamankan mayoritas 61 kursi secara mandiri. Netanyahu masih membutuhkan dukungan sedikitnya delapan kursi tambahan, sedangkan kelompok Eisenkot memerlukan 13 kursi untuk mencapai ambang mayoritas. Situasi ini membuat hasil akhir pemilu belum dapat dipastikan. Penghitungan suara yang tersisa masih berpotensi mengubah distribusi kursi, sementara negosiasi antarpihak politik akan menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang mampu membentuk pemerintahan berikutnya. Blok Netanyahu Unggul Lima Kursi atas Oposisi Hasil penghitungan sementara menempatkan blok Netanyahu di atas kelompok oposisi yang dipimpin Eisenkot. Dengan proyeksi 53 kursi, koalisi perdana menteri petahana memiliki keunggulan lima kursi dibandingkan oposisi yang diperkirakan mendapatkan 48 kursi. Meski demikian, selisih tersebut tidak otomatis menjamin keberhasilan Netanyahu membentuk pemerintahan. Sistem politik Israel mengharuskan sebuah pemerintahan memperoleh dukungan mayoritas anggota Knesset, sehingga keunggulan dalam jumlah kursi tidak selalu berujung pada kemenangan politik. Netanyahu harus mencari dukungan dari partai-partai lain agar dapat melewati ambang 61 kursi. Dukungan tersebut dapat diperoleh melalui kesepakatan koalisi, negosiasi program pemerintahan, atau bentuk kerja sama politik lain yang sesuai dengan sistem parlementer Israel. Di sisi lain, Eisenkot juga menghadapi tantangan serupa. Walaupun kelompok oposisi memiliki peluang untuk menantang Netanyahu, proyeksi 48 kursi membuat mereka membutuhkan dukungan yang lebih besar dari partai-partai di luar bloknya. Persaingan tersebut menjadikan partai-partai yang belum menentukan posisi sebagai faktor penting. Pilihan mereka dapat memengaruhi apakah Netanyahu mampu mempertahankan kekuasaan atau oposisi memperoleh kesempatan membentuk pemerintahan baru. Karena itu, hasil sementara perlu dibaca dengan hati-hati. Keunggulan Netanyahu menggambarkan posisi awal dalam pembagian kursi, tetapi keputusan politik setelah penghitungan suara dapat menentukan hasil akhir perebutan kekuasaan. Partai Arab Israel Memegang Peran Penting Dua kelompok partai Arab Israel, Joint List dan Ra’am, diproyeksikan memperoleh total 19 kursi dalam pemilu kali ini. Jumlah tersebut cukup besar untuk memengaruhi perhitungan mayoritas di parlemen yang memiliki 120 kursi. Secara matematis, dukungan partai-partai tersebut dapat menjadi salah satu faktor dalam pembentukan pemerintahan. Namun, jumlah kursi saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kedua kelompok akan mendukung Netanyahu atau Eisenkot. Keputusan mengenai kerja sama politik bergantung pada posisi masing-masing partai, tuntutan kebijakan, dan kesediaan mereka untuk terlibat dalam proses pembentukan pemerintahan. Perbedaan pandangan mengenai isu domestik maupun kebijakan terhadap Palestina dapat menjadi bagian dari pertimbangan politik yang lebih luas. Dalam sistem parlementer Israel, partai-partai yang tidak menjadi pemenang utama tetap dapat memiliki pengaruh besar apabila tidak ada blok yang mencapai mayoritas. Mereka dapat berperan dalam negosiasi, mendukung pemerintahan dari luar koalisi, atau memilih untuk tidak memberikan dukungan kepada kandidat tertentu. Namun, belum ada informasi dalam hasil sementara tersebut yang memastikan bagaimana Joint List dan Ra’am akan mengambil sikap. Karena itu, peran mereka dalam menentukan pemerintahan berikutnya masih bergantung pada perkembangan politik setelah pemilu. Mengapa Netanyahu Belum Bisa Memastikan Kemenangan? Keunggulan dalam penghitungan suara tidak langsung menentukan siapa yang menjadi perdana menteri Israel. Berbeda dengan sistem pemilihan presiden secara langsung, pemilih Israel memberikan suara kepada partai politik yang bersaing memperebutkan kursi di Knesset. Setelah hasil pemilu diketahui, pembentukan pemerintahan bergantung pada kemampuan partai atau gabungan partai memperoleh dukungan mayoritas anggota parlemen. Dengan demikian, partai yang menempati posisi pertama belum tentu berhasil membentuk pemerintahan apabila tidak mampu menggalang dukungan yang cukup. Dalam pemilu kali ini, blok Netanyahu diproyeksikan mendapatkan 53 kursi. Angka itu masih delapan kursi di bawah ambang mayoritas 61 kursi. Artinya, Netanyahu harus bernegosiasi dengan partai lain untuk memperoleh dukungan tambahan. Proses tersebut dapat melibatkan pembicaraan mengenai susunan kabinet, prioritas kebijakan, pembagian tanggung jawab pemerintahan, dan kesepakatan politik lainnya. Eisenkot menghadapi tantangan yang lebih besar dari sisi jumlah kursi. Dengan proyeksi 48 kursi, kubu oposisi memerlukan tambahan 13 kursi untuk mencapai mayoritas. Meski demikian, hasil akhir tidak hanya ditentukan oleh posisi awal kedua blok. Kemampuan membangun kesepakatan dan memperoleh dukungan dari partai-partai lain dapat mengubah peta persaingan setelah penghitungan suara selesai. Hasil Sementara Berubah dari Proyeksi Exit Poll Perkembangan penghitungan suara menunjukkan perubahan dibandingkan proyeksi awal yang diumumkan setelah pemungutan suara ditutup pada Selasa (27/10/2026). Ketika itu, sejumlah stasiun televisi Israel memperkirakan kubu oposisi unggul tipis atau memiliki jumlah kursi yang hampir sama dengan blok Netanyahu. Hasil tersebut menggambarkan persaingan yang ketat antara kedua kubu. Namun, setelah lebih banyak suara masuk dan dihitung, blok Netanyahu kembali berada di posisi teratas. Proyeksi sementara kemudian memperlihatkan keunggulan lima kursi atas kelompok oposisi yang dipimpin Eisenkot. Perbedaan antara exit poll dan hasil penghitungan sementara merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam membaca perkembangan pemilu. Exit poll didasarkan pada survei terhadap pemilih setelah mereka memberikan suara, sedangkan hasil penghitungan berasal dari surat suara yang diproses oleh penyelenggara pemilu. Karena menggunakan metode berbeda, keduanya dapat menghasilkan gambaran yang tidak sepenuhnya sama. Exit poll memberikan indikasi awal, sementara penghitungan suara resmi menjadi dasar untuk menetapkan hasil pemilu. Meski demikian, hasil sementara tetap dapat berubah selama masih terdapat suara yang belum dihitung. Dalam pemilu Israel kali ini, lebih dari 500.000 surat suara khusus masih menunggu proses penghitungan. Lebih dari 500.000 Surat Suara Khusus Belum Dihitung Komite Pemilihan Umum Pusat Israel masih harus menghitung lebih dari 500.000 surat suara khusus yang menggunakan sistem amplop ganda. Surat suara tersebut mencakup suara dari anggota militer, diplomat, dan pemilih yang memberikan suara di luar tempat pemungutan suara yang terdaftar bagi mereka. Penghitungan suara khusus merupakan bagian penting dalam proses penetapan hasil pemilu. Suara tersebut harus melalui prosedur pemeriksaan untuk memastikan kelayakan pemilih dan mencegah penghitungan ganda. Dalam sistem amplop ganda, identitas pemilih dan kelayakan pemberian suara diperiksa sebelum surat suara dimasukkan ke dalam penghitungan yang sesuai. Prosedur ini dimaksudkan untuk menjaga integritas pemilu, terutama bagi pemilih yang tidak dapat menggunakan tempat pemungutan suara reguler. Menurut laporan Al Jazeera, suara-suara tersebut masih berpotensi memengaruhi pembagian kursi di Knesset. Namun, belum ada kepastian mengenai besarnya perubahan yang mungkin terjadi setelah seluruh suara dihitung. Jika distribusi suara mengubah perolehan kursi partai-partai tertentu, komposisi blok politik juga dapat berubah. Perubahan itu berpotensi memengaruhi strategi negosiasi dalam pembentukan pemerintahan. Meski demikian, keberadaan ratusan ribu suara yang belum dihitung tidak berarti hasil pemilu pasti akan berbalik. Dampaknya bergantung pada distribusi suara yang masuk dan perhitungan kursi berdasarkan hasil akhir. Knesset Menjadi Penentu Pemerintahan Israel Berikutnya Knesset merupakan parlemen Israel yang terdiri atas 120 anggota. Dalam sistem pemerintahan parlementer negara tersebut, dukungan mayoritas anggota parlemen menjadi faktor utama dalam pembentukan pemerintahan. Partai-partai yang memperoleh kursi harus mempertimbangkan kemungkinan bekerja sama dengan kelompok lain apabila tidak ada satu blok yang mencapai mayoritas. Proses ini dapat menghasilkan koalisi yang terdiri atas beberapa partai dengan agenda dan kepentingan berbeda. Pembentukan koalisi biasanya memerlukan perundingan mengenai kebijakan utama, pembagian posisi kabinet, serta kesepakatan mengenai prioritas pemerintahan. Negosiasi dapat berlangsung rumit ketika partai-partai memiliki pandangan yang berbeda mengenai isu keamanan, ekonomi, hubungan luar negeri, dan persoalan sosial. Dalam konteks pemilu kali ini, Netanyahu berada dalam posisi awal yang lebih kuat dari sisi jumlah kursi dibandingkan Eisenkot. Namun, kekurangan delapan kursi membuatnya tetap bergantung pada dukungan pihak lain. Oposisi juga harus menghadapi tantangan untuk menyatukan dukungan yang cukup. Dengan proyeksi 48 kursi, mereka perlu menjalin kerja sama yang lebih luas agar dapat mencapai mayoritas parlemen. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa hasil pemilu tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memperoleh kursi terbanyak, tetapi juga oleh siapa yang mampu membangun dukungan politik secara efektif. Tantangan Netanyahu dalam Mempertahankan Kekuasaan Bagi Netanyahu, hasil sementara memberikan keuntungan awal dalam persaingan politik. Namun, tantangan berikutnya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi dukungan mayoritas di Knesset. Sebagai perdana menteri petahana, Netanyahu harus menghadapi proses politik yang menentukan apakah partai-partai lain bersedia bergabung atau mendukung pemerintahannya. Kesepakatan tersebut dapat memerlukan kompromi mengenai kebijakan dan pembagian tanggung jawab dalam kabinet. Jika negosiasi berjalan lancar, Netanyahu berpeluang mempertahankan posisinya. Namun, apabila partai-partai yang dibutuhkan menolak bergabung atau mengajukan tuntutan yang tidak dapat disepakati, proses pembentukan pemerintahan dapat menjadi lebih sulit. Keadaan tersebut membuat hasil pemilu tidak bisa dinilai hanya dari jumlah kursi yang diperoleh blok Netanyahu. Dukungan politik setelah pemungutan suara akan menentukan apakah keunggulan sementara dapat dipertahankan hingga tahap pembentukan pemerintahan. Di sisi lain, partai-partai yang belum menentukan pilihan memiliki ruang untuk bernegosiasi. Posisi mereka dapat menjadi penting karena tidak ada blok yang mencapai ambang mayoritas secara mandiri. Belum ada kepastian mengenai kesepakatan yang akan terbentuk setelah hasil resmi diumumkan. Oleh sebab itu, peluang Netanyahu mempertahankan jabatan masih perlu dilihat berdasarkan perkembangan penghitungan suara dan proses politik selanjutnya. Gadi Eisenkot Berupaya Menggalang Dukungan Oposisi Gadi Eisenkot menjadi tokoh utama dalam kubu oposisi yang berusaha menantang Netanyahu. Mantan Kepala Staf Militer Israel tersebut memimpin kelompok yang diproyeksikan memperoleh 48 kursi dalam pemilu kali ini. Jumlah tersebut menempatkan oposisi di bawah blok Netanyahu, tetapi belum menutup kemungkinan bagi Eisenkot untuk membangun dukungan yang lebih luas. Dalam sistem parlementer, kelompok yang berada di posisi kedua tetap memiliki peluang membentuk pemerintahan apabila mampu memperoleh dukungan mayoritas. Tantangan utama Eisenkot adalah mencari tambahan 13 kursi untuk mencapai ambang 61 kursi. Ia perlu mempertimbangkan partai-partai mana yang bersedia bekerja sama serta apakah perbedaan pandangan dapat dijembatani melalui kesepakatan politik. Selain jumlah kursi, kemampuan oposisi mempertahankan kesatuan juga menjadi faktor penting. Kelompok yang terdiri atas beberapa partai harus menyelaraskan kepentingan agar dapat menawarkan pemerintahan yang memiliki dukungan cukup stabil di parlemen. Namun, hasil sementara belum menunjukkan bahwa Eisenkot telah memperoleh komitmen dukungan yang diperlukan. Peluang oposisi tetap bergantung pada hasil akhir pemilu dan keputusan partai-partai lain setelah proses penghitungan selesai. Kebijakan Keamanan Berpotensi Menjadi Pokok Negosiasi Dalam pembentukan pemerintahan Israel, kebijakan keamanan dapat menjadi salah satu isu penting yang dibahas oleh partai-partai politik. Situasi regional, hubungan dengan Palestina, dan ancaman terhadap keamanan nasional merupakan sejumlah persoalan yang dapat memengaruhi agenda pemerintahan. Partai-partai yang berpotensi menjadi mitra koalisi dapat memiliki pandangan berbeda mengenai pendekatan keamanan dan diplomasi. Karena itu, kesepakatan politik mungkin membutuhkan kompromi mengenai prioritas serta cara pemerintah menangani tantangan regional. Bagi Netanyahu, upaya membangun mayoritas berarti mencari dukungan yang cukup untuk menjalankan agenda pemerintahannya. Eisenkot juga perlu menghadapi kebutuhan serupa apabila ingin memimpin pemerintahan baru. Namun, hasil pemilu sementara belum memberikan gambaran lengkap mengenai bentuk kesepakatan yang akan muncul. Belum ada kepastian partai mana yang akan bergabung dengan masing-masing kubu atau kebijakan apa yang akan menjadi syarat dukungan. Karena itu, perkembangan negosiasi setelah penghitungan suara akan menjadi bagian penting dalam memahami arah politik Israel. Kesepakatan yang terbentuk nantinya dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai prioritas pemerintah berikutnya. Hasil Akhir Pemilu Masih Menunggu Penghitungan Tuntas Dengan lebih dari 500.000 surat suara khusus yang belum dihitung, hasil pemilu Israel masih dapat mengalami perubahan. Komite Pemilihan Umum Pusat harus menyelesaikan pemeriksaan dan penghitungan sebelum komposisi akhir Knesset dapat dipastikan. Perubahan perolehan kursi, meskipun terbatas, dapat menjadi penting ketika kedua blok utama sama-sama berada di bawah ambang mayoritas. Dalam situasi seperti ini, setiap kursi dapat memengaruhi strategi negosiasi dan peluang membentuk pemerintahan. Namun, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa penghitungan suara yang tersisa akan mengubah posisi Netanyahu secara drastis. Hasil akhirnya bergantung pada distribusi suara yang belum diproses dan perhitungan resmi dari penyelenggara pemilu. Setelah seluruh suara dihitung, partai-partai akan memiliki gambaran lebih jelas mengenai kekuatan mereka di parlemen. Informasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan strategi pembentukan koalisi. Sampai saat itu, proyeksi 53 kursi untuk blok Netanyahu, 48 kursi bagi oposisi, dan 19 kursi untuk dua kelompok partai Arab Israel masih harus dipahami sebagai hasil sementara sebagaimana dilaporkan. Pemilu Israel 2026 Menentukan Arah Politik Berikutnya Persaingan dalam Pemilu Israel 2026 memperlihatkan bahwa keunggulan suara belum tentu berarti kemenangan dalam pembentukan pemerintahan. Netanyahu memang berada di posisi teratas berdasarkan proyeksi sementara, tetapi ia masih membutuhkan dukungan tambahan agar koalisinya mencapai mayoritas Knesset. Di sisi lain, Eisenkot dan kelompok oposisi juga belum memiliki jumlah kursi yang cukup untuk membentuk pemerintahan secara mandiri. Kedua kubu harus mempertimbangkan kemungkinan kerja sama dengan partai-partai lain, termasuk kelompok yang belum menentukan arah dukungannya. Penghitungan lebih dari 500.000 surat suara khusus menjadi salah satu tahapan yang masih perlu diselesaikan. Hasilnya berpotensi memengaruhi distribusi kursi, meskipun besarnya dampak belum dapat dipastikan. Setelah hasil akhir diumumkan, proses negosiasi politik akan menjadi penentu penting. Kemampuan membangun kesepakatan dan mengamankan dukungan mayoritas akan menentukan siapa yang memperoleh kesempatan memimpin pemerintahan Israel berikutnya. Untuk saat ini, Netanyahu unggul dalam penghitungan sementara, tetapi belum dapat dipastikan mempertahankan jabatannya. Kepastian mengenai arah pemerintahan Israel masih menunggu hasil akhir pemilu dan perkembangan pembentukan koalisi di parlemen. Apakah Anda menyukai kepribadian ini?